Masihkah kita berdiam diri?

Masih lekat ingatan kita tentang dua belas karikatur pelecehan atas Nabi Muhammad SAW yang diterbitkan disebuah surat kabar terbesar di Denmark, Jylland Posten; 30 September 2005, dalam terbitannya gambar-gambar kartun tersebut memuat sejumlah gambar yang orang bodoh sekalipun tahu bahwa itu adalah bentuk pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW . Tak cukup saat itu saja sejumlah media justru seolah berlomba menerbitkan kartun tersebut, pada 10 Januari 2006, kartun tersebut kembali diterbitkan pada majalah magazinet sebuah majalah terbitan norwegia, kemudian disusul sebuah Koran Jerman die welt, Koran perancis france soir dan banyak lagi sejumlah media di negara eropa lain yang ikut menerbitkan kartun tersebut. Di Indonesia sendiri tercatat ada dua tabloid yang menerbitkan kartun tersebut Tabloid Gloria dan Tabloid Peta. 

Maka tak heran jika akhirnya berbagai bentuk gelombang protes pun merebak dimana mana, baik dalam bentuk turun ke jalan maupun melalui tulisan di internet, bahkan dalam bentuk kekerasan pun terjadi. Seperti diketahui seorang pemuda Somalia berupaya menghabisi nyawa sang kartunis kotroversi tersebut Kurt Westergaard dirumahnya namun, sayangnya gagal, ia ditangkap setelah kakinya dilumpuhkan dengan tembakan oleh polisi. Selain itu tiga kedutaan besar Denmark diserang dan setidaknya 50 orang terbunuh dalam kerusuhan di Timur Tengah, Afrika dan Asia. 

Motive or Action ???

Entahlah kawan, aku bukan seorang penulis handal yang mampu mengukir kata kata manis hingga mampu menyihir pembaca, aku juga bukan seorang motivator ulung yang mampu menghipnotis orang dengan bara panas yang keluar dari ucapannya, otakku memaksaku menulis tulisan yang bahkan aku pun bingung harus memulai hikmah ini dari mana…

Sudah 5 hari ini aku tak menunjukkan batang hidung di depan dosen mata kuliah, alasannya? Sakit kah? Sibuk Acara kah?Malas kah? atau pulang kampung kah^^? Sama sekali bukan, ketidak hadiranku hanya karena aku berkutat pada pada tuts keyboard dan  clickkan mouse didepan sebuah layar 14”. Hal yang sebelumnya bagiku amat membosankan dan membuat mata berkunang kunang, aku lebih memilih berkutat dengan angka dan huruf diatas kertas dibandingkan berkutat dengan keyboard dan mouse. Ah…tak terlalu penting  apa yang sedang kukerjakan dengan benda itu.

(ribet ya nulis pake bahasa resmi banget…ckckck, udahlah cekidot aj langsung dibawah)

Menurut ente mana dulu yang muncul dalam setiap aktivitas ente? Motive atau action dulu? ( buat yang gak ngerti bahasa daerah planet, motive:  alasan, action:tindakan), ane rasa kita gak perlu berdebat panjang lebar tentang masalah ginian, karena keduanya memegang peranan penting,  orang-orang  yang yang memiliki motive tetapi tidak melakukan action, sama saja dengan orang yang sedang mimpi disiang bolong, sama aj kayak orang ngelamunin nikmatnya surga  tapi kerjanya ngejamret emak orang, hanya berharap pada keajaiban turun dari langit sampe harapannya terkabul. Begitu juga seballiknya orang-orang yang tidak memiliki motive yang jelas tapi langsung ngelakuin action, maka Insya Allah orang yang ginian bakal kesasar, karena hanya melakukan sesuatu tanpa tahu mau kemana, hidupnya akan hambar karena bara semangatnya cepat kendur dimakan waktu.

Ibnu Taymiyah

Taman rindang itu dipenuhi beraneka tanaman. Bunga-bunga mewangi, sementara buah ranum menyembul disela-sela dahannya yang rimbun. Disatu pojok, sebatang tunas tumbuh dan berkembang dengan segarnya. Batangnya kokoh, rantingnya dihiasi pucuk-pucuk daun lebat dengan akar terhujam kebumi. Tunas itu khas. Ia berada ditempat yang khas. Jika fajar menyingsing sinar mentari menerpa pucuk-pucuknya. Ketika siang menjelang ia dipayungi rimbunan dahan di sekitarnya. Dan saat petang beranjak, sang raja siangpun sempat menyapa selamat tinggal melalui sinarnya yang lembut. Sang tunas tumbuh dalam suasana hangat. Maka tak heran jika ia tumbuh dalam, berbuah lebat, berbatang kokoh dan berdahan rindang. Tunas itu adalah Taqiyyudin Ahmad bin Abdilhalim bin Taymiyyah.
Ia berasal dari keluarga taqwa. Ayahnya Syihabuddin bin Taymiyyah. Seorang Syaikh, hakim, khatib, 'alim dan wara'. Kakeknya Majduddin Abul Birkan Abdussalam bin Abdullah bin Taymiyyah Al-Harrani. Syaikhul Islam, Ulama fiqih, ahli hadits, tafsir, Ilmu Ushul dan hafidz.

Jadi Ikhwan Jangan Cengeng

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikasih amanah pura-pura batuk..
Nyebutin satu persatu kerjaan biar dikira sibuk..
Afwan ane sakit.. Afwan PR ane numpuk..
Afwan ane banyak kerjaan, kalo nggak selesai bisa dituntut..
Afwan ane ngurus anu ngurus itu jadinya suntuk..
Terus dakwah gimana? digebuk?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikit-dikit dengerin lagunya edcoustic..
udah gitu yang nantikanku di batas waktu, bikin nyelekit..
Ke-GR-an tuh kalo ente melilit..
Kesehariannya malah jadi genit..
Jauh dari kaca jadi hal yang sulit..
Hati-hati kalo ditolak, bisa sakiiiittt.. .

Jadi Akhwat Jangan Cengeng

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Dikasih amanah malah melarikan diri..
Diajak syuro bilang ada ijin syar’i..
Afwan ane ada agenda syar’i.. Afwan lagi nguleg sambel trasi..
Disuruh ikut aksi, malah pergi naik taksi..
Sambil lambai-lambai, bilang dadaaah…yuk mari…..
Terus dakwah gimana? Diakhiri???

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Sekilas gayanya sih haroki berlagak Izzis..
Tapi hati kok Seismic? Sungguh ironis…
Mendayu-dayu kaya’ film romantis..
Kesehariannya malah jadi narsis..
Jauh dari kamera jadi dikira ge eksis..
Hati-hati kalo ditolak, bikin dramatis..

Pengakuan & Pesan Akhwat untuk Ikhwan

1. kami itu senang jika diperhatikan, apalagi jika kalian adalah ikhwan yang dewasa, atau ikhwan yang ‘alim, atau ikhwan yang cool, padahal kami belum mampu berhijab secara baik, karena itu tundukkanlah pandangan kalian dengan makna yang sebenarnya, dan janganlah kalian ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya.

2. kami juga senang mendengar kalian berbicara dengan dan tentang kami, rasanya jadi gimana gitu, karena itu cukupkanlah pembicaraan kalian jika kalian mulai memberi pujian kepada kami meskipun itu hanya sebuah pujian kecil.

3. kami juga sulit menahan bayangan-bayangan hati akan kalian para ikhwan, ketika kami merasa para kalian dapat menjadi tempat untuk mencurahkan isi hati kami, waktu luang kami akan sering terisi oleh bayang-bayang kalian, karena itu janganlah kalian membiarkan kami mencurahkan isi hati kami kepada kalian.

4. kami juga inginnya terus dekat dengan kalian para ikhwan, tapi maaf..bukan karena apa-apa tapi lebih karena perhatian yang kalian berikan kepada kami, meskipun sesungguhnya kami sangat malu akan hal ini, terkadang kami pun terlepas kata dan laku, yang malah menjadikan kami dan kalian semakin tak mengenal batas, karena itu pertama nasihatilah kami akan azab Allah dan setelahnya jangan pernah memberi dan membalas bentuk perhatian kami.

Pengakuan dan Pesan para Ikhwan untuk para Akhwat


1. kami sulit menahan pandangan mata ketika sedang melihat kalian para akhwat, apalagi jika kalian diamanahkan Allah kecantikan dan postur tubuh yang ideal, kami semakin susah untuk menolak agar tidak melihat kalian, karena itu lebarkanlah pakaian kalian, dan tutupilah rambut hingga ke dada kalian dengan kerudung yang membentang.

2. kami juga sulit menahan pendengaran kami ketika berbicara dengan kalian para akhwat, apalagi jika kalian diamanahkan Allah suara yang merdu dengan irama yang mendayu, karena itu tegaskanlah suara kalian, dan berbicaralah seperlunya kepada kami.

3. kami juga sulit menahan bayangan-bayangan hati akan kalian para akhwat, ketika kami merasa kalian dapat menjadi tempat untuk mencurahkan isi hati kami, waktu luang kami akan sering terisi oleh bayangan-bayangan kalian, karena itu janganlah kalian membiarkan kami menjadi curahan hati bagi kalian.

4. kami juga inginnya terus dekat dengan kalian para akhwat, tapi maaf bukan karena apa-apa tapi lebih karena dorongan yang ‘itu’, kata dokter sih ini ada hubungannya dengan libido kami, makanya kami akan selalu mencari cara agar bisa untuk terus dekat dengan kalian, apakah itu lewat Telepon, sms, chatting, bertemu muka, apalagi kalo kalian mau jadi pacar kami, minimal kami bisa pegangan tangan dengan kalian, karena itu pertama nasihatilah kami akan azab Allah dan setelahnya jangan pernah memberi dan membalas bentuk perhatian kami.

Logika Bodoh Vs Logika Sang Juara

Untuk apa aku harus berbuat lebih? Buat apa aku harus lebih rajin? Lha wong ketika ujian, antara aku dan temanku yang lebih rajin hanya terpaut beberapa point…

Logika bodoh ini sudah setahun lebih menggelayuti pikiran malasku, ia ibarat musuh dalam selimut, melemahkan otot otot tubuhku, mengakukan sendi sendi tulangku, menyumbat aliran semangatku dan akhirnya membuatku lebih memilih belajar seadanya dibandingkan belajar lebih, tak heran jika akhirnya nilai yang kumiliki anjlok tajam dibandingkan semester awal, hal itu kusadari sekali, sehingga berkali kali pula aku menyusun ulang target-targetku, tapi hasilnya nihil. Logika ini memang benar benar keterlaluan.

Sampai akhirnya 2 buah tulisan menyentak alam berpikirku, sebuah catatan milik seseorang dari sebuah jejaring sosial yang berjudul “waktu yang kuhabiskan” dan sebuah novel yang berjudul “negeri 5 menara”.

Dari situ sebuah logika tandinganpun menonjok K.O logika bodohku itu, ia akhirnya menyerah dengan logika yang kuberi nama logika sang juara, kenapa? Karena antara seorang pemenang dan seorang pecundang terkadang hanya terpaut oleh sebuah besaran yang begitu tanggung, sabagai contoh, pernahkah anda menyaksikan lomba lari cepat, lihatlah betapa tipisnya pencapaian catatan waktu juara 1 dan juara 2, bisa jadi hanya sepersekian detik saja, namun apakah lantas sepersekian detik itu membuat juara 1 menjadi 2 orang, tetap saja tidak.

Pencapaian sepersekian detik yang akhirnya menjadikannya juara bukan terjadi begitu saja dan bukan pula dihasilkan oleh usaha yang seadanya namun melalui usaha yang terus menerus setiap detik, menit, jam dan hari yang kita luangkan dan terkadang membosankan. namun itu semua adalah sebuah bayaran yang pantas untuk sebuah pencapaian.

Itulah mengapa akhirnya aku sadar, bahwa seandainya saja kita berusaha sedikiiit saja lebih baik dari kebanyakan orang , maka kita akan menjadi sang juara itu.

“…kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah, sungguh Allah mencintai orang yang bertawakal” (Ali Imran[3];159)”

Jalan Kepayahan

Panggilannya Pak Soma. Usianya sekitar 60-an. Saya pertama kali mengenalnya sejak pindah rumah ke kampungnya, persis dekat rumahnya. Saat itu kami berdua sama-sama menunaikan shalat maghrib berjamaah. Dari guratan wajahnya, ia tampak seorang yang tegar.

Awalnya, saya melihat Pak Soma biasa-biasa saja. Memang, ada satu hal yang membuat siapapun trenyuh. Ya, ini karena secara fisik Pak Soma bukanlah manusia sempurna. Ia seorang yang cacat. Salah satu kakinya bunting dan hanya tinggal seperempatnya. Karena itu, kemana-mana ia bergantung pada kedua tongkatnya.

Sebetulnya ada banyak orang yang senasib dengan Pak Soma. Namun, mungkin tidak banyak orang cacat yang taat beribadah, termasuk tak pernah ketinggalan shalat lima waktu secara berjamaah di masjid, seperti Pak Soma. Padahal jarak rumahnya ke masjid cukup jauh, hamper setengah kilometer yang membuat ia semakin luar biasa, ternyata ia shalat tetap sambil berdiri, tentu dengan satu kaki. Ia tidak pernah shalat sambil duduk. Bayangka, dalam shalat berjamaah di masjid itu, berdiri dan rukuk satu rakaat saja Pak Soma kadang membutuhkan 2-3 menit, apalagi imamnya ternyata bacaannya sering panjang-panjang. Belum lagi ia dikenal rajin melakukan shalat-shalat nafilah dan shalat-shalat sunnah lainnya: tahajud, duha, hajat, dll. Juga dengan satu kaki.

Saat saya tanya, mengapa tidak shalat sambil duduk saja, toh secara syar’i dibolehkan karena ada uzur. Apalagi berdirinya Pak Soma dalam shalat juga kadang tidak selalu stabil; kakinya tampak sering bergetar dan goyah, terutama saat harus berdiri agak lama. Namun, dengan mantap Pak Soma menjawab. “Saya ingin, kepayahnya saya dalam mendirikan shalat menjadi bukti kesungguhan saya dalam beribadah kepada Allah, yang akan saya tunjukan saat menghadap kepada-Nya di Akhirat kelak.”
Subhanallah! Betapa luar biasanya kata-katanya yang sebetulnya sederhana ini. Bagaimana tidak! Di tengah-tengah kebanyakan orang saat ini ingin mencari berbagai kemudahan, termasuk dalam ibadah, masih ada orang yang menempuh ‘jalan kepayahan’itu. Pak Soma adalah salah satunya.

Yang semakin membuat saya takjub, ternyata Pak Soma harus kehilangan satu kakinya juga karena ia menempuh ‘jalan kepayahan’ itu . saat itu, sekitar sepuluh tahun lalu, sambil berlari secepat kilat, ia berupaya keras menyelamatkan seseorang yang hendak tersambar kereta api. Ia berhasil, meski harus dengan berguling-guling. Namun, ia gagal menyelamatkan dirinya dan harus kehilangan satu kakinya karena tersambar oleh kereta api tersebut.

‘jalan kepayahan’ sebetulnya merupakan tradisi para salafush-shalih. Bahkan jalan inilah yang sejak awal selalu dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw, dan para sahabat beliau. Baginda Rasul, misalnya, dikenal selalu melewati malam-malamnya dengan shalat malam. Dalam banyak riwayat ditegaskan, kaki beliau sering berdiri lama dalam shalat-shalat malamnya. Saat Ummul Mukminini Aisyah ra. Bertanya, mengapa beliau sampai harus bersusah-payah seperti itu, padahal beliau ma’shum (terpelihara dari dosa), sambil tersenyum beliau malah balik bertanya “Wahai Aisyah, tidak sepantasnyakah aku menjadi hamba yang bersyukur kepada-Nya dengan semua itu?”(HR. Al-Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad).

Tentu tidak hanya dalam beribadah. ‘jalan kepayahan’ itu pula yang di tempuh Baginda Rasulullah saw, dalam sebagian besar episode dakwahnya. Betapa sering beliau ‘memilih’ untuk dicibir, dihinakan, dicaci-maki, dilempari dengan kotoran dan batu, bahkan tak jarang diancam untuk dibunuh sebagai konsekuensi dari kesungguhan dan keistiqamahan beliau dalam dakwanya. Saat orang-orang kafir sudah hampir putus-asa menghalangi dakwah, melaluuuui Paman beliau, mereka kemudian menawari beliau harta yang banyak, kedudukan yang tinggi, juga wanita-wanita cantik terpilij. Namun, semua itu tak membuat hati beliau luruh sedikit pun. Beliau tetap bergeming, yang terucap dari lisan beliau yang mulia malah sebuah kalimat terkenal. “Paman, andai mereka sanggup menaruh matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan urusan (dakwah) ini, aku tidak akan pernah melakukannya, hingga Allah memenangkan agama-Nya atau aku mati karenanya.” (HR Ibnu Hisyam).

‘jalan kepayahan’ pula yang ditempuh oleh para Sahabat beliau. Bilal bin Rabbah, misalnya, dalam keadaan punggungnya telanjang tanpa baju, rela dijemur di atas pasir, di bawah terik matahari yang menyengat, lalu ditindih dengan batu. Yasir rela dijerat lehernya dan Sumayyah (istrinya) rela tubuhnya ditusuk dengan tombak hingga keduanya harus kehilangan nyawanya. Mushab bin Umair rela meninggalkan harta dan kemewahan serta memilih hidup menderita. Hampir semua Sahabat Rasulullah saw, tak ragu untuk ‘menggadaikan’ sebagian besar (bukan sebagian kecil) waktu, tenaga, harta bahkan nyawa mereka. Semua ‘jalan kepayahan’ ini mereka tempuh tidak lain demi dan untuk dakwah.

Bagaimana dengan kita? Jujur, kita masih menimbang-nimbang saat mengeluarkan uang 100.000 rupiah untuk infak dakwah, tetapi selalu begitu gampang dan tak berpikir panjang saat membelanjakannya di supermarket untuk barang yang kadang tak terlalu dibutuhkan. Jujur, seperempat jam sering terasa lama untuk berzikir, namun terasa amat pendek untuk tiduran dan berleha-leha. Jujur, setengah jam sering terasa sangat membosankan saat membaca Al-Qur’an, namun terasa sangat menyenangkan saat membaca koran dan nonton bola di televisi. Jujur, dua jam dalam halaqah (meski hanya seminggu sekali) sering terasa menjemukan, namun terasa kurang untuk membaca novel-novel best seller (meski ratusan halaman) Jujur, kita sering merasa susah merangkai kata untuk berdakwah, namun begitu mudah mencari bahan obrolan saat bertemu teman. Jujur, kita sering kesulitan mencari alasan untuk bolos kerja di kantor, tetapi begitu mudah mencari alasan untuk bolos halaqah. Jujur, hujan besar dan lebat sering tak menyurutkan langkah kita untuk meraih target dalam bisnis, tetapi hujan kecil telah cukup menjadi alasan untuk menghentikan langkah kita demi menunaikan amanah dakwah. Jujur, kita sering merasa payah saat ada taklif dakwah, tetapi sering begitu gampang mengiyakan panggilan untuk mengisi acara yang mendatangkan uang

Jujur, meski kita sering mengklaim Rasulullah saw, adalah teladan kita satu-satunya, namun satu-persatu pula kita tinggalkan keteladanannya. Astagfirullah al ‘Azhin

Oleh: Arief B. Iskandar

Muhasabah

Baginda Nabi Muhammad saw. Pernah bersabda, sebagaimana dituturkan oleh Syaddad bin Aus ra ...” Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengendalikan hawa nafsunya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian ...” (HR. At-Tirmidzi : Hadits Hasan).

Dikatakan bahwa di antara pengertian “orang yang mengendalikan hawa nafsunya” (man dana nafsahu) dalam hadits di atas adalah orang yang slelau menghisab dirinya di dunia sebelum dirinya dihisab pada Hari Kiamat. Terkait dengan hadits ini Umar bin Al-Khatthab ra, pernah berkata,”Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah SWT kelak. Bersiaplah menghadapi Hari Perhitungan yang amat dahsyat. Sesungguhnya hisab pada Hari Kiamat akan terasa ringan bagi orang yang selalu menghisab diri ketika di dunia.” (Lihat : Al-Mubarakfuri, Tuhfah Al-Ahwadzi bi Syarh Jami’at At-Tirmidzi)

Muhasabah (menghisab diri), sebagai salah satu pesan inti dari hadits di atas, sangatlah penting dilakukan oleh setiap Muslim. Dengan sering melakukan muhasabah, ia akan mengetahui berbagai kelemahan, kekurangan, dosa dan kesalahan yang ia lakukan. Dengan itu, ia akan terdorong untuk selalu melakukan perbaikan diri. Dengan itu pula, dari tahun ke tahun, dari bulan ke bulan, dari hari ke hari, bahkan dari waktu ke waktu ia menjadi semakin baik. Imannya makin kuat : ketakwaannya makin kokoh; shalatnya makin khusyuk; amal shahinya makin bertambah dan dosa-dosanya makin berkurang karena semakin jarangnya ia bermaksiat; semangat dakwahnya makin bergelora; pengorbanannya makin besar; akhlakny makin terpuji-ia makin menjaga setiap amanah dan makin taqarrub kapada Allah SWT.

Sayangnya, karena berbagai kesibukan, entah karena sibuk mencari nafkah, atau berdakwah, seorang Muslim sering tak sempat lagi ber-muhasabah; waktunya habis oleh ragam aktivitas yang ia lakukan. Ada juga yang jarang ber-muhasabah bukan karena sibuk, tetapi karena memang ia lalai.

Tentu, jarangnya seorang Muslim melakukan muhasabah merupakan musibah. Betapa tidak. Dengan jarangnya ber-muhasabah (menghisab diri), seorang Muslim sering merasa tidak ada yang kurang pada dirinya: ia merasa dirinya baik-baik saja. Padahal boleh jadi, imannya makin rapuh, ketakwaannya makin terkikis, shalatnya tidak lagi khusyuk, amal shalihnya sudah jauh berkurang, dosa-dosanya makin bertambah, semangat dakwah hampir-hampir padam, pengorbanannya makin menipis, akhlaknya makin jauh dari islami-mulai sering muncul ketidakikhlasan, ketidaktawadukan, ketidakwara’an, ketidakamanahan dan makin jauh dari Allah SWT. Namun, semua itu sering tidak ia sadari karena kepekaan spiritual memang telah hilang dari dirinya akibat jarangnya ia melakukan muhasabah.

Akibat lebih jauh, ia sering merasa tidak berdosa atau bersalah saat shalatnya lalai dan tidak khusyuk, saat amal shalihnya semakin berkurang, saat halaqah-nya jarang-jarang, saat melalaikan banyak amanah dakwah dan saat melakukan banyak dosa; seperti sering melihat hal-hal yang haram, mendengar hal-hal yang sia-sia, melakukan hal-hal yang syubhat, dll. Ia pun tidak lagi merasa menyesal saat sering meninggalkan shalat berjamaah, saat jarang melakukan shalat malam, saat shalat subuhnya suka terlambat, saat tidak mampu lagi berpuasa sunnah, saat jarang membaca Al-Qur’an, saat tidak lagi bisa menangis ketika berdoa, dll. Tentu, semua itu, sekali lagi karena jarangnya ia melakukan muhasabah.

Kita tampaknya perlu merenungkan kembali keteladanan Baginda Nabi Muhammad saw, dan para sahabat beliau yang mulia. Baginda Nabi Muhammad saw., misalnya, pernah semalaman tidak dapat tidur karena khawatir memikirkan sebutir kurma-hanya sebutir kurma-yang terlanjur beliau makan di suatu tempat. Pasalnya, belakangan beliau berpikir bahwa kurma itu mungkin bagian dari kurma sedekah yang disediakan untuk fakir-miskin. Itulah yang menjadi beban pikiran beliau semalaman.

Abu Bakar Ash-Shiddiq ra, pernah memuntahkan kembali makanan, yang baru belakangan beliau ketahui, bahwa makanan itu ternyata merupakan pemberian dari tukang ramal. Saat beliau ditanya, mengapa berlaku demikian, beliau menjawab, “Andai untuk memuntahkan makanan itu saya harus menebusnya dengan nyawa saya, saya pasti akan melakukannya. Sebab, saya pernah mendengar Rasulullah saw. Bersabda,”Badan yang tumbuh dengan makanan yang haram maka api neraka lebih baik baginya.’ Saya sangat khawatir dengan itu.”(Kanz Al-‘Umal).

Hal yang sama dilakukan oleh Umar bin Al-Khatthab ra. Beliau pernah memuntahkan kembali air susu yang beliau minum, karena baru belakangan beliau tahu, bahwa ternyata air susu itu berasal dari unta sedekah. Seketika beliau memasukkan jarinya ke mulutnya dan memuntahkan kembali air susu itu (Imam Malik, Al-Muwaththa).
Diriwayat pula, pada zaman Khalifah Utsman bin Affan ra, seorang Anshar sedang shalat di tengah-tengah kebunnya. Lalu pandangannya tertuju pada buah-buahan ranum yang bergantungan di dahan-dahan pepohonan. Usai shalat, ia pun menyesal. Ia lalu segera mewakafkan kebun miliknya itu demi ‘menebus’ kesalahannya (Imam Malik, Al-Muwaththa’).

Seculi kisah di atas-yang benar-benar nyata-mungkin bagi kita semacam kisah-kisah ‘manusia langit’ yang sepertinya mustahil kita teladani. Asumsi semacam itu sesungguhnya hanyalah menunjukkan, bawah kita benar-benar sudah sangat jauh dengan keteladanan Baginda Nabi saw., para sahabat dan generasi salafush-shalih dulu. Mengapa? Karena mungkin-salah satunya-kita jarang melakukan muhasabah. Kalaupun kita melakukannya, mungkin itu kita lakukan setahun sekali, saat pergantian tahun atau saat ‘berulang tahun’, atau mungkin saat terkena musibah. Padahal dosa dan kemaksiatan kita lakukan setiap hari, bahkan mungkin setiap waktu. Tentu, semua dosa dan kemaksiatan itu sangat mudah kita lupakan, karena muhasabah setiap hari atau setiap waktu. Mudah-mudahan kita semua bisa melakukannya.
Wa ma tawfiqi illa billah wa ‘alayhi tawakkaltu wa ilayhi unib.

Oleh: Arief B. Iskandar

Proses Keimanan

“ Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?” (QS Al Ghasyiyah: 17-20)

Uqdatul Kubro
Di saat manusia beranjak dewasa yang ditandai oleh kesempurnaan akalnya, maka semenjak itu ia mulai berpikir tentang ‘keberadaan’-nya di dunia ini. Ia mulai berpikir tentang beberapa pertanyaan mendasar yang sangat perlu, bahkan harus ia jawab. Jawaban tersebut akan menjadi landasan kehidupan pada masa-masa selanjutnya. Selama masalah ini belum terjawab, selama itu pula manusia seolah ‘tersesat ‘ tanpa tujuan jelas dan tidak akan berjalan di dunia ini dengan tenang. Karena sifatnya yang demikian beberapa pertanyaan pokok dan mendasar ini sering disebut sebagai ’Uqdatul Kubro’ (masalah/simpul yang sangat besar).
Pertanyaan mendasar tersebut berupa :
-dari manakah manusia dan kehidupan ini ?
-untuk apa manusia dan kehidupan ini ada ?
-akan kemana manusia dan kehidupan setelah ini ?

Bila pertanyaan ini terjawab maka seseorang akan memiliki landasan kehidupan sekaligus tuntunan dan tujuan kehidupannya, -- terlepas dari jawabannya benar atau salah. Selanjutnya ia berjalan di dunia ini dengan ‘landasan’ tersebut, berekonomi dan berbudaya berdasar ‘landasan’ itu, bahkan ia akan mengajak orang dan kaum lain agar mengikuti ‘landasan’ tersebut.

Seseorang atau suatu kaum yang menyelesaikan ‘uqdatul kubra’ dengan jawaban ‘kehidupan dunia ini ada dengan sendirinya, manusia berasal dari tanah/ materi dan kelak akan kembali lagi menjadi materi/benda, sehingga manusia hidup untuk mencari kebahagiaan materi selama ia mampu hidup”, maka mereka akan hidup dengan aturan yang dibuatnya sendiri, dengan standar baik-buruk yang ia kehendaki. Mereka akan berbudaya, berekonomi dan berpolitik untuk mencapai kebahagiaan material, selama mereka mampu hidup. Orang dan kaum seperti ini tidak meyakini adanya hal ghaib (ruh, akhirat, pahala-dosa dsb). Mereka percaya segalanya materi belaka.

Sementara itu seseorang atau suatu kaum yang menjawab “dibalik alam dan kehidupan ini ada Sang Pencipta, yang mengadakan seluruh alam, termasuk dirinya, memberi tugas/amanah kehidupan pada manusia dan kelak ada kehidupan lain setelah dunia ini, yang akan menghisab seluruh perbuatannya di dunia”, maka mereka akan hidup, berekonomi, berbudaya, berpolitik dan berinteraksi dengan kaum lain, berdasarkan aturan Penciptanya. Standar baik-buruk berdasarkan aturan Sang Pencipta, dan sekaligus menjadi standar amal yang harus ia pertanggungjawabkannya di hadapan Sang Pencipta.

Demikian gambaran ringkas tentang ‘landasan kehidupan’ seseorang/suatu kaum, yang sekaligus merupakan jawaban ‘uqdatul kubro’ manusia. Tetapi bagaimana jawaban yang benar terhadap masalah ini?

Pemecahan Shohih ‘Uqdatul Kubro’
Dengan berbagai upaya, manusia mencoba mencari jawaban tersebut melalui segala hal yang dapat dijangkau akalnya. Karena segala hal yang dapat dijangkau akal manusia, tidak lepas dari (1) alam semesta (al kaun), (2) manusia (al insan) dan (3) kehidupan (al hayaah), maka ketiga hal inilah yang dijadikan obyek/media berpikir untuk mencari jawaban yang dimaksud.

Pemecahan yang benar terhadap masalah ini tidak akan terbentuk kecuali dengan pemikiran yang jernih dan menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan serta hubungan ketiganya dengan kehidupan sebelum dan sesudah kehidupan dunia ini. Islam telah memberi jawaban melalui proses berpikir yang jernih, menyeluruh, benar, sesuai dengan akal, menentramkan jiwa dan sesuai dengan fitrah manusia. Proses pencarian keshahihan dari ‘uqdatul qubra’ itu adalah sebagai berikut:

1. Proses keimanan terhadap Al Kholiq (Sang Pencipta)
Islam menjawab bahwa dibalik alam semesta, manusia dan kehidupan ini ada Al Kholiq (Sang Pencipta), yang mengadakan semua itu dari tidak ada menjadi ada. Al Kholiq itu bersifat wajibul wujud (wajib/pasti adanya). Ia pun bukan mahluk karena sifatnya sebagai Sang Pencipta memastikan bahwa diri-Nya bukanlah makhluk.

Bukti bahwa segala sesuatu itu mengharuskan adanya Pencipta yang menciptakannya dapat diterangkan sebagai berikut. Bahwasanya segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal terbagi dalam tiga unsur, yaitu manusia, alam semesta dan kehidupan. Ketiga unsur ini bersifat terbatas dan bersifat lemah (tidak dapat berbuat sesuatu dengan dirinya sendiri-peny), serba kurang dan saling membutuhkan kepada yang lain. Misalnya manusia, ia merasa terbatas sifatnya karena tumbuh dan berkembang tergantung terhadap segala sesuatu yang lain, sampai suatu batas yang tidak dapat dilampauinya lagi. Oleh karena itu jelas ia bersifat terbatas, mulai dari ‘ketiadaannya’ sampai batas waktu yang tidak bisa dilampauinya lagi. Begitu pula halnya dengan kehidupan (nyawa), ia bersifat terbatas pula, sebab penampakan/perwujudannya bersifat individual semata. Dan apa yang kita saksikan selalu menunjukkan bahwa kehidupan itu ada lalu berhenti pada satu individu itu saja. Jadi jelas kehidupan itu ada lalu berhenti pada satu individu itu saja. Jadi jelas kehidupan itu bersifat terbatas. Demikian pula halnya dengan alam semesta. Iapun bersifat terbatas. Himpunan dari benda-benda terbatas dengan sendirinya terbatas pula sifatnya. Jadi alam semesta itupun bersifat terbatas. Kini jelaslah bahwa manusia, kehidupan dan alam semesta, ketiganya bersifat terbatas (termasuk memiliki batas awal dan akhir keberadaannya).

Jika sesuatu itu bersifat terbatas, akan didapati bahwa segala hal tersebut tidak azali (tidak berawal dan tidak berakhir). Sebab apabila ia azali, bagaimana mungkin ia bersifat terbatas? Tidak boleh tidak, keberadaan semua yang terbatas ini membutuhkan adanya ‘sesuatu yang lain’. Dan ‘sesuatu yang lain’ inilah dinamakan Al Kholiq, yang menciptakan manusia, kehidupan dan alam semesta.

Dalam menentukan sifal Al Kholiq (Pencipta) ini tentu saja hanya ada tiga kemungkinan:
a.Pertama, Ia diciptakan oleh yang lain. Dengan pemikiran aqliyah yang jernih dan mendalam, akan dipahami bahwa kemungkinan ini adalah kemungkinan yang bathil (tidak dapat diterima oleh akal). Sebab apabila Ia diciptakan oleh yang lain maka Ia adalah makhluk dan bersifat terbatas, yaitu butuh kepada yang lain untuk mengadakannya.
b.Kedua, Ia menciptakan diri-Nya sendiri. Kemungkinan kedua ini pun bathil juga. Karena dengan demikian ia akan menjadi makhluk dan Khaliq pada saat yang bersamaan. Jelas ini tidak dapat diterima oleh akal.
c.Ketiga, Ia bersifat azali dan wajibul wujud dan mutlak keberadaannya. Setelah dua kemungkinan di atas dinyatakan bathil, maka hanya tinggal satu kemungkinan lagi dan hanya kemungkinan yang ketigalah yang shohih, yakni Al Kholiq itu tidak boleh tidak harus bersifat azali dan wajibul wujud serta mutlak adanya. Dialah Allah SWT.

Sesungguhnya bagi setiap orang yang mempunyai akal hanya dengan perantaraan wujud benda-benda yang dapat diinderanya, ia dapat memahami bahwa dibalik benda-benda itu terdapat Pencipta yang telah menciptakannya. Dengan memahami bahwa semua benda-benda tadi bersifat serba kurang, sangat lemah dan saling membutuhkan kepada yang lain, maka semua hanyalah makhluk. Karenanya untuk membuktikan adanya Al Khaliq yang Maha Pengatur, sebenarnya cukup hanya dengan mengamati segala sesuatu yang ada di alam semesta, kehidupan, dan di dalam diri manusia itu sendiri.

Karena itu kita jumpai bahwa Al Qur’an senantiasa melontarkan pandangannya kepada benda-benda yang ada di sekitar manusia sambil mengajak manusia untuk mengamati segala apa yang ada di sekelilingnya dan apa yang berhubungan dengannya, agar dapat membuktikan adanya Allah SWT. Sebab dengan mengamati benda-benda akan memberikan suatu pemahaman yang meyakinkan manusia terhadap adanya Allah yang Maha Pencipta lagi Maha Pengatur secara pasti tanpa ada keraguan. Di dalam Al Qur’an telah dibeberkan banyak ayat yang berkenaan dengan hal ini, antara lain firman Allah :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang yang berakal.” (QS Ali Imran: 190)

Juga firman-Nya :


“(Dan) Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakannya langit dan bumi serta berlain-lainnya bahasa dan warna kulitmu.” (QS Ar Rum: 22)

Serta firman-Nya yang lain seperti QS Al Ghasiyah: 17-20, juga QS Ath Thariq: 5-7, atau juga firman-Nya berikut yang artinya :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Ia hidupkan bumi sesudah matinya (kering) dan Ia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran air dan awan yang dikendalikan antar langit dan bumi. Sesungguhnya pada semua itu terdapat tanda-tanda (Keesaan dan Kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS Al Baqarah: 164)

Masih banyak lagi ayat sejenis yang mengajak manusia untuk memperhatikan benda-benda alam, serta melihat apa yang ada disekelilingnya untuk dijadikan petunjuk atas adanya Sang Pencipta yang Maha Pengatur. Dengan demikian imannya kepada Allah SWT menjadi mantap, yang berakar dari akal dan bukti.
Inilah jawaban shohih secara ringkas, tentang keberadaan Al Kholiq dibalik manusia, alam semesta dan kehidupan.

Sifat Fithri Keimanan
Memang benar, bahwa iman kepada Yang Maha Pengatur ini merupakan suatu hal yang fithri dalam diri setiap manusia. Akan tetapi iman yang fithri ini hanya muncul dari perasaan hati yang ikhlas belaka. Dan proses semacam ini tidak bisa dianggap aman akibatnya serta tidak akan membawa suatu ketetapan/keyakinan apabila ditinggalkan (tanpa dikaitkan dengan akal). Sebab perasaan hati semacam ini sering menambah-nambah terhadap apa yang diimani dengan sesuatu yang realistis. Bahkan mengkhayalkannya dengan sifat-sifat tertentu yang lazim terhadap apa yang ia imani sehingga dapat menjerumuskan ke arah kekufuran dan kesesatan. Penyembahan berhala dan khurafat (cerita bohong), tak lain tak bukan akibat salahnya perasaan hati. Maka dari itu Islam tidak membiarkan perasaan hati ini sebagai satu-satunya jalan menuju iman.

Islam menegaskan penggunaan akal bersama-sama dengan perasaan hati dan mewajibkan atas setiap muslim untuk menggunakan akalnya dalam beriman kepada Allah SWT serta melarang bertaqlid dalam urusan aqidah. Untuk ini Islam telah menjadikan akal sebagai timbangan dalam beriman kepada Allah. Sebagaimana firman Allah SWT :

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS Ali Imran: 190)

Oleh karena itu maka wajib bagi setiap muslim untuk menjadikan imannya betul-betul muncul dari proses berfikir, penelitian, memperhatikan serta bertahkim pada akalnya dalam beriman kepada Allah SWT secara mutlak.

Batas akal dalam memahami Al Khaliq
Kendati wajib atas manusia untuk menggunakan akalnya dalam beriman kepada Allah SWT, namun tidak mungkin baginya untuk memahami apa yang ada di luar jangkauan indra dan akalnya. Hal ini karena sifat dan kekuatan akal manusia terbatas, sehingga pemahamannya pun terbatas.

Oleh karenanya, akal tidak mampu untuk memahami Dzat Allah dan hakekat-Nya, sebab Allah berada diluar ketiga unsur pokok alami yang dapat diindera manusia (alam semesta, manusia dan kehidupan). Hanya saja tidak dapat dikatakan : “Bagaimana mungkin orang dapat beriman kepada adanya Allah SWT, sedang akalnya sendiri tidak mampu memahami Dzat Allah?”. Memang tidak bisa dikatakan demikian, sebab pada hakekatnya iman itu adalah percaya akan adanya (wujud/keberadaan-Nya) Allah, dimana wujud Allah ini dapat dipahami melalui keberadaan makhluk-makhluk-Nya, yaitu alam semesta, manusia dan kehidupan. Ketiganya ini berada dalam batas-batas yang dapat dicapai oleh akal.

Dengan memahami ketiga hal itu, orang dapat memahami adanya Al Khaliq, yaitu Allah SWT. Karenanya, iman kepada adanya Allah harus berdasarkan akal dan dalam jangkauan akal. Lain halnya jika orang hendak memahami Dzat Allah dimana hal ini mustahil terjadi. Sebab Dzat-Nya diluar jangkauan kemampuan akal. Padahal akal itu sendiri tidak mungkin memahami hakekat apa yang berada diluar jangkauannya, disebabkan keterbatasannya untuk melakukan hal itu.

Sesungguhnya apabila iman kepada Allah SWT muncul dari akal, pemahaman kita terhadap adanya Al Khaliq pun akan menjadi sempurna pula. Apabila perasaan hati (yang timbul dari fithrah-peny) yang mengatakan adanya Allah dibarengi pula oleh akal maka perasaan semacam ini akan tumbuh menjadi suatu keyakinan yang kokoh, yang akan memberikan suatu pemahaman yang sempurna serta perasaan yang yakin atas semua sifat-sifat ketuhanan. Dengan sendirinya hal ini akan meyakinkan diri kita bahwa kita tidak akan sanggup memahami hakekat Dzat Allah, justru karena kuatnya iman kita kepada-Nya.

2. Proses keimanan terhadap Rasul
Adapun bukti mengenai hubungan manusia terhadap para rasul dapat kita lihat dari terbuktinya manusia sebagai mahluk Allah SWT yang bersifat terbatas, akal dan kemampuannya. Juga dapat dilihat dari terbuktinya agama itu sebagai suatu hal yang fithri dalam diri manusia, karena ia merupakan salah satu fithrah pen-taqdis-an (pengagungan dan pensucian-peny) manusia. Dalam fithrahnya itu manusia senantiasa mentaqdiskan Penciptanya. Pekerjaan mentaqdiskan inilah yang selanjutnya dikenal sebagai ibadah, yang merupakan tali penghubung antara manusia dan Penciptanya. Apabila hubungan ini dibiarkan sendiri tanpa aturan akan cenderung terjadi kekacauan ibadah serta menyebabkan terjadinya penyembahan terhadap selain dari pencipta yang sebenarnya. Jadi harus ada aturan tertentu yang mengatur hubungan ini dengan baik. Hanya saja aturan ini tidak boleh datang dari pihak manusia, karena ia sendiri tidak mampu memahami hakekat Al Khaliq (maksudnya tentang perbuatannya, apakah perbuatan itu diterima atau ditolak oleh Al Khaliq-peny) untuk dapat meletakkan aturan antara dirinya dengan Sang Pencipta. Karenanya aturan ini harus datang dari Al Khaliq serta harus sampai ke tangan manusia. Maka tidak boleh tidak harus ada para rasul yang menyampaikan agama Allah ini kepada umat manusia.

Bukti lain akan kebutuhan manusia terhadap para rasul adalah bahwa pemuasan manusia akan tuntutan kebutuhan-kebutuhan jasmani dan gharizah/nalurinya merupakan hal yang mutlak diperlukan. Jika pemuasan ini dibiarkan berjalan tanpa aturan akan menjadi pemuasan yang salah, berlebihan serta menyebabkan malapetaka bagi manusia. Karena itu harus ada aturan yang mengatur gharizah dan kebutuhan-kebutuhan jasmani ini. Tetapi aturan ini tidak boleh datang dari pihak manusia, sebab pemahamannya dalam mengatur gharizah dan kebutuhan jasmani selalu menjadi obyek (sasaran) kekeliruan, perselisihan dan keterpengaruhan oleh lingkungan yang didiaminya. Maka dari itu aturan tersebut harus datang dari Allah SWT, yang untuk dapat sampai ke tangan manusia, haruslah melalui seorang rasul.

3. Proses Keimanan terhadap Al Qur’an Kalamullah
Adapun bukti –yang sangat mudah – bahwa Al Qur’an itu datang dari Allah SWT, dapat dilihat dari kenyataan/fakta bahwa Al Qur'an itu sebuah kitab berbahasa arab yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Karena fakta tersebut, maka dalam upaya menentukan ‘dari mana’ asal Al Qur'an itu, dapat kita buktikan dengan tiga kemungkinan dan hanya tiga kemungkinan itu, tidak ada yang lain. Ketiga kemungkinan tersebut adalah:
a.Pertama, ia merupakan karangan bangsa Arab.
Kemungkinan yang pertama ini, yang mengatakan bahwa Al Qur'an merupakan karangan bangsa Arab adalah suatu kemungkinan yang bathil. Sebab Al Qur'an sendiri menantang mereka (bangsa Arab) untuk membuat karya yang serupa. Sebagaimana tertera dalam ayat :

“Katakanlah: ‘Maka datangkanlah sepuluh surat yang menyamainya.” (QS Hud: 13)

“Katakanlah: ‘Kalau benar yang kamu katakan maka coba datangkan sebuah surat yang menyamainya.” (QS Yunus: 38)

Bangsa Arab telah berusaha untuk menghasilkan karya yang serupa, akan tetapi mereka tidak juga berhasil. Jadi Al Qur'an bukan berasal dari perkataan orang Arab, karena ketidakmampuan mereka untuk menghasilkan karya yang serupa.

b.Kedua, ia merupakan karangan Muhammad SAW.
Adapun kemungkinan yang kedua, yang mengatakan bahwa Al Qur'an itu karangan Muhammad SAW, adalah kemungkinan yang bathil pula. Sebab Muhammad adalah orang Arab juga. Bagaimanapun jeniusnya, tetaplah ia sebagai seorang manusia yang menjadi salah satu anggota dari bangsanya. Selama bangsa Arab tidak mampu menghasilkan karya yang serupa, maka masuk akal pula apabila Muhammad SAW yang orang Arab itu juga tidak mampu menghasilkan karya yang serupa. Jelaslah bahwa Al Qur'an, bukan karangannya.

Hal tersebut makin diperkuat dengan banyaknya hadits-hadits shahih dan mutawatir dari Nabi Muhammad SAW, yang bila setiap hadits ini dibandingkan dengan ayat manapun dalam Al Qur'an maka tidak akan dijumpai adanya kemiripan dari segi gaya bahasa (uslub), padahal keduanya berasal dari orang yang sama. Akan tetapi keduanya tetap berbeda dari segi gaya bahasanya. Dan bagaimanapun kerasnya seseorang menciptakan berbagai macam gaya bahasa dalam pembicaraannya, tetap akan terdapat kemiripan antara gaya bahasa yang satu dengan gaya bahasa yang lain. Jadi karena tidak ada kemiripan antara gaya bahasa Al Qur'an dengan gaya bahasa hadits maka yakinlah bahwa Al Qur'an itu bukan perkataan Nabi Muhammad SAW.
Dengan demikian maka terbantahlah kemungkinan pertama dan kedua. Kini tinggal tuduhan lain yang mereka lontarkan, yaitu bahwa Al Qur'an itu di sadur oleh Muhammad SAW dari seorang pemuda Nasrani bernama Jabr. Tuduhan itu ditolak keras oleh Allah SWT melalui firmannya:

“(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, ‘Sesungguhnya Al Qur'an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya (adalah) bahasa ‘ajami (non arab), sedangkan Al Qur'an itu dalam bahasa Arab yang jelas.” (QS An Nahl: 103)

Inilah pembuktian yang jelas bahwa Al Qur'an itu bukan karangan bangsa Arab atau karangan Muhammad SAW. Al Qur'an adalah perkataan Allah (kalam Allah) yang menjadi mukjizat bagi pembawanya (Muhammad SAW). Tidak ada kemungkinan lain selain ini, dilihat dari kenyataan bahwa Al Qur'an itu berbahasa Arab.

c.Ketiga, ia berasal dari Allah semata, sebagaimana pernyataan pembawanya.
Setelah kedua kemungkinan tersebut terbantahkan, kini hanya tinggal satu kemungkinan yaitu bahwa Al Qur’an itu adalah kalamullah. Kemungkinan inilah yang shahih di antara tiga kemungkinan yang ada. Kemungkinan ini sekaligus membuktikan bahwa Muhammad SAW adalah Rasulullah karena tidak ada yang membawa syariat dan mukjizat kecuali seorang nabi dan rasul. Sedangkan yang membawa syariat (Al Qur’an) tersebut tidak lain adalah Muhammad SAW.

Demikian uraian-uraian singkat namun jelas dan tegas tentang dalil aqli untuk beriman kepada (wujudnya) Allah, kepada kebenaran kerasulan Muhammad SAW dan kepada Al Qur'an, bahwasanya Al Qur'an merupakan kalam Allah.

Konsekuensi Iman Kepada Allah, Rasulullah SAW, dan Al Qur’an
Jadi iman kepada (wujud) Allah itu datang dari akal dan memang harus datang dari jalan seperti ini. Ini pula yang menjadi dasar kuat untuk beriman terhadap hal-hal yang ghaib dan segala hal yang dikabarkan oleh Allah SWT. Sebab jika kita telah beriman kepada Allah SWT, yang memiliki sifat-sifat ketuhanan itu, maka wajib pula bagi kita untuk beriman terhadap apa saja yang dikabarkan oleh-Nya. Baik hal itu dapat dicerna oleh akal maupun tidak, karena semua itu dikabarkan oleh Allah SWT.
Dari sini kita wajib beriman kepada hari kebangkitan dan pengumpulan (ba’ats), surga dan neraka, hisab dan siksa, juga beriman akan adanya malaikat, jin dan syaithan, serta apa saja yang telah diterangkan Al Qur'an dan hadist qath’i. Iman seperti ini walaupun didapat dengan jalan ‘mengutip’ (naql) dan mendengar (sama’), akan tetapi pada dasarnya telah terbukti oleh akal. Jadi aqidah seorang muslim itu harus bersandar kepada akal atau pada sesuatu yang telah terbukti dasarnya oleh akal. Apa saja yang tidak terbukti oleh kedua jalan tadi, yaitu akal serta nash Al Qur'an dan hadist qath’i (mutawatir), haram baginya untuk mengi’tiqadkannya. Sebab aqidah tidak boleh diambil kecuali dengan kepastian (keyakinan).

Oleh karena itu kita wajib beriman kepada kehidupan sebelum dunia, yaitu adanya Allah SWT dan proses penciptaan oleh-Nya; serta beriman kepada kehidupan setelah dunia yaitu hari akhirat. Perintah-perintah Allah itu merupakan tali penghubung (shilah) antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dunia, yaitu hubungan penciptaan (shilatul khalq); dan sekaligus menjadi tali penghubung kehidupan dunia dengan kehidupan sesudah dunia (shilatul muhasabah). Dan pastilah hal ihwal manusia terikat oleh tali penghubung ini. Karenanya manusia wajib berjalan dalam kehidupan ini sesuai dengan peraturan Allah dan wajib beri’tiqad bahwa ia diciptakan oleh Allah, dan akan dihisab di hari kiamat atas segala perbuatannya di dunia.

Dengan demikian telah terbentuklah pemikiran yang jernih tentang apa yang ada di balik kehidupan, alam semesta dan manusia. Telah terbentuk pula pemikiran yang jernih tentang alam sebelum dan alam sesudah dunia. Dan bahwasanya terdapat ‘tali penghubung’ antara dunia dengan kedua alam tersebut. Dengan demikian telah terurailah ‘masalah besar’ itu secara pasti kebenarannya dengan Aqidah Islamiyah.
Apabila manusia telah berhasil memecahkan hal tadi ia dapat beralih memikirkan kehidupan dunia serta mewujudkan mafahim yang benar (terhadap dunia), yang dihasilkan dari pemikiran dasar tersebut. Pemecahan itu pula yang menjadi dasar bagi berdirinya suatu prinsip ideologis kehidupan (mabda’) yang membentuk jalan menuju kebangkitan suatu kaum. Mabda’ itu pula yang akan menjadi dasar bagi tumbuh kembangnya peradaban (hadloroh) suatu kaum. Juga menjadi dasar bagi peraturan-peraturan hidupnya, dan juga menjadi dasar untuk mendirikan negaranya. Dengan demikian dasar bagi berdirinya Islam, baik secara fikroh (ide dasar) maupun thoriqoh (pola operasional/ metode pelaksanaan) adalah Aqidah Islam itu sendiri. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya dan kepada Kitab yang diturunkan sebelumnya. Dan siapa saja yang mengingkari Allah dan Malaikat-Nya dan Kitab-Kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya dan hari akhir maka ia telah sesat sejauh-jauhnya kesesatan.” (QS An Nisa: 136)

Apabila semua ini (Iman kepada Allah, dst tadi) telah terbukti kebenarannya, maka wajib pula beriman kepada Syari’at Islam (sebagaimana terhadap Aqidah Islam). Karena seluruh syariat ini tercantum dalam Al Qur'an dan telah dibawa oleh Rasulullah SAW. Apabila tidak beriman maka ia kufur. Seorang yang ingkar terhadap hukum-hukum syara’ secara keseluruhan atau sebagian, dapat menyebabkan ia menjadi kufur. Baik hukum-hukum itu berkaitan dengan ibadah, muamalah, uqubat (sanksi), ataupun math’umat (yang berkaitan dengan makanan). Maka kufur terhadap ayat:

“Dirikanlah shalat…..".

sebenarnya sama saja kufur terhadap ayat:

“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al Baqarah: 275)

Atau terhadap ayat :

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri potonglah tangan keduanya.” (QS Al Maidah: 38)

Atau ayat :

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan (hewan yang disembelih atas nama selain Allah.” (QS Al Maidah: 3)

Dengan demikian, iman terhadap syari’at sebenarnya tidak berhenti pada akal semata, tetapi juga harus ada penyerahan mutlak terhadap segala yang datang dari sisi-Nya, sebagaimana firman-Nya :

“Maka demi Rabb-mu mereka itu (pada hakekatnya) tidak beriman sebelum mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim (pemutus) terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima (pasrah) dengan sepenuhnya.” (QS An Nisa: 65)

Kebangkitan Manusia
Bangkitnya manusia tergantung dari landasan kehidupan (aqidah)nya, yang merupakan jawaban atas pertanyaan mendasar tentang kehidupan ini. Karenanya umat harus diarahkan kepada aqidah yang benar, sehingga memiliki pandangan hidup yang benar dan mendorongnya berbuat sesuai dengan aturan yang muncul dari aqidah yang benar tadi. ‘Pemahaman aqidah’ ini selalu ada dalam diri suatu manusia, umat atau kaum; karenanya, untuk mengubah keadaan suatu kaum agar bangkit, aqidah inilah yang harus diubah terlebih dahulu. Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah ‘keadaan’ suatu kaum sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS Ar Ra’d: 11)

Satu-satunya jalan perubahan aqidah dengan membentuk pemikiran yang benar dan jernih tentang aqidah yang shohih yang melandasi kehidupan dan kebangkitannya. Hal ini dapat dengan menyampaikan (kepada manusia-peny) pemikiran yang benar tentang pemecahan simpul pada ‘masalah besar’ (Uqdatul Kubro’) dalam diri manusia. Apabila masalah besar ini telah teruraikan, maka terurai pula masalah yang lainnya, sebab hanya merupakan bagian atau cabang dari masalah besar tadi. Oleh karena itu bagi mereka yang menghendaki kebangkitan dan kehidupan berada diatas jalan yang mulia, harus terlebih dahulu memecahkan masalah besar ini dengan pemecahan yang benar, yakni dengan aqidah yang benar.

Islam telah menangani ‘masalah besar’ ini. Dipecahkannya untuk manusia dengan pemecahan yang sesuai dengan fithrah, memuaskan akal serta memberikan ketenangan jiwa. Oleh sebab itu Islam dibangun diatas satu dasar yaitu aqidah, yang mengatakan bahwasanya dibalik alam semesta, manusia dan kehidupan terdapat Sang Pencipta (Al Khaliq) yang telah menciptakan ketiganya, dan yang telah menciptakan pula segala sesuatu yang lainnya. Dialah Allah SWT. Aqidah yang mengatakan bahwasanya Pencipta ini telah menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Ia bersifat wajibul wujud (wajib adanya), Ia bukan makhluk, karena sifat-Nya sebagai Pencipta memastikan bahwa diri-Nya bukan makhluk, serta memastikan pula bahwa ia mutlak adanya. Segala sesuatu menyandarkan wujudnya kepada diri-Nya, sedangkan Ia tidak bersandar kepada sesuatu apapun.

Aqidah Islam

Katakanlah : ”Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS Al Ikhlas: 1-2)

Aqidah Islamiyah adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, kepada qadla dan qadar baik-buruk keduanya dari Allah. Sedangkan makna iman itu sendiri adalah pembenaran yang bersifat pasti (tashdiiqul jazm), yang sesuai dengan kenyataan, yang muncul dari adanya dalil/bukti. Bersifat pasti artinya seratus persen kebenaran/ keyakinannya tanpa ada keraguan (dzann) sedikitpun. Sesuai dengan fakta artinya hal yang diimani tersebut memang benar adanya, bukan diada-adakan (mis. keberadaan Allah, kebenaran Al Qur’an, wujud malaikat dll). Muncul dari suatu dalil artinya keimanan tersebut memiliki hujjah/dalil tertentu. Tanpa dalil sebenarnya tidak akan ada pembenaran yang bersifat pasti .

Suatu dalil untuk masalah iman, ada kalanya bersifat aqli dan atau naqli, tergantung perkara yang diimani. Jika perkara itu masih dalam jangkauan panca indra/akal, maka dalil keimanannya bersifat aqli, tetapi jika di luar jangkauan panca indra, maka ia didasarkan pada dalil naqli. Hanya saja perlu diingat bahwa penentuan sumber suatu dalil naqli juga ditetapkan dengan jalan aqli. Artinya, penentuan sumber dalil naqli tersebut dilakukan melalui penyelidikan untuk menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dijadikan sebagai sumber dalil naqli. Oleh karena itu, semua dalil tentang aqidah pada dasarnya disandarkan pada metode aqliyah. Dalam hal ini, Imam Syafi'i berkata :
"Ketahuilah bahwa kewajiban pertama bagi seorang mukallaf adalah berfikir dan mencari dalil untuk ma'rifat kepada Allah Ta'ala. Arti berfikir adalah melakukan penalaran dan perenungan kalbu dalam kondisi orang yang berfikir tersebut dituntut untuk ma'rifat kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ia bisa sampai kepada ma'rifat terhadap hal-hal yang ghaib dari pengamatannya dengan indra dan ini merupakan suatu keharusan. Hal ini merupakan suatu kewajiban dalam bidang ushuluddin."

Peranan Akal dalam Masalah Keimanan

Akal manusia mampu membuktikan keberadaan sesuatu hal berada di luar jangkauannya, jika ada sesuatu yang dapat dijadikan petunjuk atas keberadaan hal tersebut, seperti perkataan seorang Baduy (orang awam) tatkala ditanyakan kepadanya "Dengan apa engkau mengenal Rabbmu ?" Jawabnya :
"Tahi onta itu menunjukkan adanya onta dan bekas tapak kaki menunjukkan pernah ada orang yang berjalan."

Oleh karena itu, ayat-ayat Al Qur'an adalah bukti eksistensi/ keberadaan Allah Sang Pencipta dengan cara mengajak manusia memperhatikan makhluk-makhluk-Nya. Sebab, jika akal diajak untuk mencari Dzat-Nya, tentu tidak mampu menjangkaunya, seperti firman-Nya:

"Sesungguhnya pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang meyakini." (QS Al Jaatsiyat: 3-4)

Karena keterbatasan akal dalam berfikir, Islam melarang manusia untuk berfikir langsung tentang Dzat Allah, karena Dzat Allah berada diluar kemampuan akal untuk menjangkaunya. Selain itu juga karena manusia mempunyai kecenderungan (bila ia hanya menduga-duga tanpa memiliki acuan kepastian) menyerupakan Allah SWT dengan suatu makhluk. Dalam hal ini Rasulullah bersabda :
"Berfikirlah kamu tentang makhluk Allah tetapi jangan kamu fikirkan tentang Dzat Allah. Sebab, kamu tidak akan sanggup mengira-ngira tentang hakikatnya yang sebenarnya." (HR Abu Nu'im dalam "Al Hidayah" ; sifatnya marfu', sanadnya dhoif tetapi isinya shahih)

Akal manusia yang terbatas tidak akan mampu membuat khayalan tentang Dzat Allah yang sebenarnya; bagaimana Allah melihat, mendengar, berbicara, bersemayam di atas 'Arsy-Nya, dan seterusnya. Sebab, Dzat Allah bukanlah materi yang bisa diukur atau dianalisa, tidak dapat dikiaskan dengan materi apapun, semisal manusia, makhluk aneh berkepala dua, bertangan sepuluh, dan sebagainya.

Kita hanya percaya dengan sifat-sifat Allah yang dikabarkan-Nya melalui wahyu. Bila kita menghadapi suatu ayat/hadits yang menceritakan tentang menyerupakan Allah dengan makhluk, maka kita tidak boleh mencoba-coba membahas ayat-ayat/hadits tersebut dan menta'wilkannya sesuai dengan akal kita. Ia lebih baik kita serahkan kepada Allah, karena ia memang berada di luar kemampuan akal. Itulah yang dilakukan oleh para sahabat, tabi'in, dan ulama salaf. Imam Ibnul Qoyyim berkata :

"Para sahabat berbeda pendapat dalam beberapa masalah. Padahal mereka itu adalah ummat yang dijamin sempurna imannya. Tetapi alhamdulillah, mereka tidak pernah terlibat bertentangan faham satu sama lainnya dalam menghadapi asma Allah, perbuatan-perbuatan Allah, dan sifat-sifat-Nya. Mereka menetapkan apa yang diutarakan Al Qur'an dengan suara bulat. Mereka tidak menta'wilkannya, juga tidak memalingkan pengertiannya."

Ketika kepada Imam Malik ditanyakan tentang makna "persemayaman-Nya" (istiwaa'), beliau lama tertunduk dan bahkan mengeluarkan keringat. Setelah itu Imam Malik mengangkat kepala lalu berkata :
"Persemayaman itu bukan sesuatu yang dapat diketahui. Juga kaifiyah (cara)nya bukanlah hal yang dapat difahamkan. Sedangkan mengimaninya adalah wajib, tetapi menanyakan hal tersebut adalah bid'ah/ salah."

Dalil Naqli dalam Hal Aqidah Haruslah Mutawatir
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa aqidah haruslah tashdiiqul jazm yang artinya pembenaran dengan pasti. Pembenaran dengan pasti ini berarti tidak boleh ada keraguan sedikitpun dalam mengimaninya (harus utuh/seratus persen) dan tidak boleh ada kekurangan sedikitpun (misal 99,99%). Hal ini diharuskan karena dalam masalah aqidah/keimanan berarti menyangkut iman atau kafir. Apabila ada sedikit saja keraguan dalam dalam hal aqidah/keimanan (mis. keberadaan Allah), maka sesungguhnya keimanannya sudah dapat dikatakan rusak atau bahkan kafir. Untuk itulah dalam masalah aqidah/keimanan ini pun dalil naqli yang digunakan juga haruslah kuat dan qath’i (pasti) serta tidak memberi peluang sedikitpun untuk ada keraguan di dalamnya.

Al Qur’an adalah sebuah kitab yang sudah dapat dipastikan membawa dalil-dalil naqli yang kuat dan qathi. Selain itu, Al Qur’an juga disampaikan secara mutawatir. Hal ini menjadikan kebenaran Al Qur’an adalah qath’i/jazm serta sedikitpun tidak ada keraguan untuk mengimaninya. Dengan demikian penggunaan Al Qur’an untuk dalil naqli dalam masalah aqidah tidak dapat diragukan lagi.

Berbeda dengan Al Qur’an, Al Hadits ada kalanya disampaikan secara mutawatir, adakalanya juga disampaikan secara ahad. Hadits Mutawatir artinya bahwa Hadits tersebut disampaikan oleh para sahabat, tabi’in dan tabiit tabi’in dalam jumlah tertentu dalam setiap thabaqat-nya (generasi). Setiap thabaqat itupun periwayat yang membawanya haruslah mempunyai syarat-syarat yang akan menjadikan hadits mutawatir ini bersifat qath’i, tidak dzann, sehingga kebenarannya seratus persen dan tidak dapat diragukan lagi. Adapun beberapa syarat dari hadits Mutawatir itu antara lain sebagai berikut:
a.Hadits yang disampaikan harus diterima langsung oleh perawi dengan pendengaran dan penglihatan langsung pada periwayat sebelumnya.
b.Jumlah rawi tiap tabaqatnya (sahabat, tabi,in dan tabiit tabi’in) mencapai jumlah tertentu dan tidak memungkinkan mereka bersepakat bohong. Jumlah ini harus seimbang tiap thabaqatnya .
c.Untuk memastikan bahwa perawinya tidak mungkin berbohong baik sengaja maupun tidak, maka haruslah mempunyai sifat adil, sempurna ingatan (hafalan kuat), dan beberapa syarat yang lain.

Akan halnya hadits ahad, hadits ini kekuatannya tidak bisa dipastikan seratus persen (qath’iy) serta masih mengandung dzann, baik sedikit maupun banyak. Jumlah perawinya pun lebih kecil dari hadits mutawatir dengan kondisi dan syarat-syarat tidak seketat hadits mutawatir. Hal inilah yang menjadikan hadits ahad bersifat tidak qath’iy (pasti kebenarannya) sehingga walau sedikit masih mengandung unsur keragu-raguan (dzan) . Seperti telah diketahui sebelumnya bahwa dalam masalah aqidah tidak boleh ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Oleh sebab itu hadits ahad tidak dapat digunakan sebagai dalil naqli khusus untuk masalah aqidah, namun tetap dapat digunakan untuk masalah selain aqidah tergantung kekuatan hadits ahad tersebut .

Kerusakan Aqidah Ummat Islam Akibat Filsafat Yunani
Sebagian ulama khalaf (Mutaakhirin), terutama ahli ilmu kalam (Mutakallimin) tidak menjalani cara yang ditempuh oleh ulama salaf. Mereka tidak puas dengan cara berpikir demikian. Karenanya, mereka lalu menta'wilkan suatu Al Wahyu yang termasuk mutasyabihat (tidak dijelaskan rinci oleh Allah dan Rasul-Nya, a.l. tentang sifat dan perbuatan Allah SWT), sesuai dengan kehendak akal, padahal semua itu berada diluar kemampuan akal. Mereka menggunakan dalil aqli dengan dasar mantiqi/logika untuk membahas hal-hal seperti bergeraknya Allah, Allah turun ke langit, hubungan antara sifat dengan Dzat Allah, dll.
Meski ulama khalaf menempuh jalan yang tidak sesuai dengan apa yang telah diturunkan Al Qur’an, tetapi mereka masih tetap beriman kepada Islam dan tetap bertolak dari dalil-dalil syar'iy. Namun mereka telah mencoba menggunakan akal untuk memecahkan persoalan yang pernah dialami oleh para filosof Yunani terdahulu, tanpa kembali pada ketentuan Al Wahyu dan contoh Rasulullah SAW. Mulailah mereka melontarkan kembali masalah-masalah klasik, seperti wihdatul wujud dll. Pendapat-pendapat mereka (ahli kalam dan filosof) telah meragukan umat terhadap beberapa hal yang berkaitan dengan masalah aqidah, bahkan berhasil pula menyesatkan dan mengeluarkan sebagian kaum muslimin dari Islam. Karenanya aqidah Islam perlu dijauhkan dari ilmu mantik atau filsafat agar tidak membahayakan aqidah ummat. Sumber aqidah hanyalah Al Qur'an dan hadits-hadits mutawatir. Metode yang digunakan adalah metode aqliyah (melalui pemahaman terhadap dalil aqli dan naqli) sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW, jauh sebelum umat Islam bertemu dengan ahli filsafat (Yunani) dan ajaran-ajarannya.

Lonceng Kematian Kapitalisme

Moris bermain, 63 tahun, ahli sejarah kebudayaan kelahiran New York, yang memperoleh PhD dari Johns Hopkins University menulis buku Dark Ages America :The Final Phase of Empire (Norton, 2006), yang meramalkan imperium Amerika segera akan rubuh. Ia mendekripsikan Amerika sebagai sebuah kultur dan emosional yang rusak oleh peperangan, menderita karena kematian spiritual dan dengan intensif mengekspor nilai-nilai palsunya ke seluruh dunia dengan menggunaka senjata.

Apa yang tulis oleh Moris Bermain tampaknya semakin menunjukkan kebenarannya. Pertama, AS adalah peradaban emosial yrusak oleh peperangan. Jamil Salmi dalam Violence and Democatic Society mencatat negara Paman Sam ini antara tahun 1945 sampai 2001 saja sudah melakukan 218 kali intervensi terhadap negara lain. Amerika juga merupakan otak kudeta berdarah di berbagai negara. Genocide atas nama demokrasi dan perang melawan terorisme yang dilakukan AS juga telah menimbulkan korban sipil yang sangat besar di Irak dan Afganistan. Pasca pendudukan As, korban rakyat sipil Irak hampir mencapai angka 1 juta orang.

Negara ini memang haus darah dan mesin pembunuh. John Pike dari GlobalSecurity,org, sebuah grup riset, menyatakan tentara Amerika menghamburkan 250.000,- peluru untuk menembak mati setiap gerilyawan. Biaya perang demikian besar. Staf Partai Demokrat di Kongres menghitung dari 2002 sampai 2008, perang yang lebih panjang dibandingkan dengan Perang Dunia II itu menghabiskan 1,3 triliun dolar AS.
Menurut Salmi, AS juga merupakan pendukung pemerintah represif di berbagai negara : Syah Reza Pahlevi di Iran yang diktator, raja-raja Arab yang represif, Soeharto pada masa orde baru, Musharaf diktator Pakistan yang kemudian dilengserkan oleh rakyatnya, Husni Mubarak di Mesir, atau Karimov di Uzbekistan. AS juga pendukung setia rezim teroris Israel yang hingga kini secara sistematis membunuh kaum Muslim di Palestina.

Kedua, negara ini juga memang mengalami krisis spiritual yang akut. Kehidupan sosial dan politik menjadi buas, rakus, dan kering karena tidak diatur agama. Masyarakat menganggap agam tidak lagi menjadi begitu penting dalam kehidupan mereka.
Implikasinya, AS mengalami kerusakan pranata sosial yang akut. Tingginya tingkat kriminalitas, stres, pornografi, aborsi dan pelacuran menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan dari negra kapitalis ini. Menurut studi yang dilakukan oleh National Victim Center pada tahun 1992, 1,3 wanita yang berumur 18 tahun ke atas di USA diperkosa setiap menit; 78 wanita perjam; 1.871 wanita perhari, atau 683.000,- korban pertahun. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS memperkirakan, jumlah pengidap virus HIV/AIDS mencapai 1,1 juta orang. Sangat mengerikan!
Ketiga, negara adidaya ini juga intensif mengekspor nilai palsunya dengan ancaman senjata. Atas nama HAM, demokrasi, liberalisme, pasar bebas dan perang melawan terorisme mereka melakukan apa saja, termasuk menjajah Irak dan Afganistan.
Ide-ide yang mereka usumh penuh dengan kepalsuan dan kemunafikan. Mereka mengatakan penegakan HAM berlaku sama bagi setiap umat manusia. Namun, negara Paman Sam ini adalah pelanggar HAM nomor wahid di dunia. Lihatlah apa yang dilakukan AS: Puluhan ribu orang ditahan tanpa ada dakwaan yang jelas, tanpa bukti dan tidak didampingi pengacara. Mereka dijebloskan dan disiksa di Penjara Guantanamo, Abu Ghraib, dan penjara-penjara di negara-negara diktator lainnya yang mendukung AS.

Mereka mengatakan, demokrasi harus ditegakkan lewat dukungan rakyat dan tanpa kekerasan (non-violance). Namun, lihatlah di Irak dan Afganistan, demokrasi dipaksakan dengan senjata. Mereka berbicara bahwa setiap rakayt berhak mengekspresikan keinginan mereka. Namun, AS dengan berbagai cara menghalangi upaya kaum Muslim di dunia untuk menerapkan syariah dalam kehidupan negara dan politik mereka. Negara-negara Barat menggunakan para penguasa negeri Muslim yang menjadi kaki tangan mereka untuk meredam, menghalangi hingga menyiksa siapapun yang ingin memperjuangkan syariah Islam.

Dengan semua kebobrokan ini, banyak yang meramal, kedigdayaan AS tidak akan lama. Lonceng kematian bagi AS semakin kuat terdengar menyusul krisis keuangan yang dialami oleh AS dan negara-negara Eropa saat ini. Lehman Brothers, salah satu perusahaan investasi bank AS terbesar, akhirnya dinyatakan bangkrut. Inilah akhir nasib suatu bank besar dan tertua yang terdiri di negera bagian Alabama tahun 184 dan jatuh begitu saja. Padahal pada tahun 2007 Lehman masih melaporkan jumlah penjualan sebesar 57 triliun dolar dan bulan Maret lalu masih sempat dinyatakan oleh Majalah Business Week sebagai salah satu dari 50 perusahaan papan atas pada tahun 2008. pasar saham dunia terguncang. Krisis ekonomi global pun di ambang pintu.
Memang terlampau dini untuk menyatakan Kapitalisme telah hancur. Ekonomi dan profesor di University of Texas, James Galbraith meyakini perekonomian AS akan mampu bertahan menghadapi hantaman krisis ini karena posisi mata uang dolar masih cukup kuat, Gerald Friedman, ekonomi, profesor di University of Massachussets, juga ragu mengatakan bahwa krisis ekonomi AS adalah tanda-tanda berakhirnya sistem ekonomi kapitalis.

Namun yang jelas, krisis ini kembali membuktikan bahwa sistem Kapitalisme yang dikenal dengan The Bubble Economy sangat rapuh. Hizbut Tahrir dalam booklet-nya yang berjudul Sebab-sebab Kegoncangan Pasar Modal Menurut Hukum Islam telah menjelaskan pangkal kerapuhan dari sistem ekonomi ini ada tiga : sistem perseroan terbatas (PT), sistem perbankan ribawi, dan sistem uang kerta inkorvertibel (fiat money).

Terakhir, menarik apa yang dikatakan Gerald Friedman tentang apakah krisis ini akan menghancurkan sistem Kapatalisme, “Yang lebih penting lagi, sistem kapitalis atau sistem sosial apapun hanya bisa dihancurkan oleh sistem yang berlawanan yang didukung oleh munculnya kelas-kelas dalam perekonomian,” jawab Friedman.
Bagi kita, sistem yang berlawanan itu, yang akan menghancurkan Kapitalisme, adalah sistem Khilafah yang menerapkan syariah. Semoga